Senin, 09 Oktober 2017

BENTUK PEMUJAAN TRI PURUSHA DAN TRI HITA KARANA


TUGAS AGAMA HINDU
“BENTUK PEMUJAAN TRI PURUSHA DAN TRI HITA KARANA”


NAMA KELOMPOK :
1.    NI LUH PUTU RICHA WAHYUNI                (29)
2.    NI KETUT RISTA YANI                                 (30)
3.    LUH SANDYA NATASHA SPARINGGA    (31)
4.    NI KADEK SINTYA ANGGRENI                  (32)
5.    KADEK WIYANA MULYAWAN                  (33)

KELAS :
XII IPA 6


TAHUN AJARAN 2016/2017

BENTUK PEMUJAAN TRI PURUSHA
A.    Sejarah Ajaran Tri Purusha di Bali
Perenungan :
“Bhadram icchanta rsayas tapo diksam upanisedur agre tato rastram balam ojasca jatam tadasmai deva upasamnamantu”
Terjemahan :
Para rsi (futurelog) yang memikirkan tentang kemakmuran bangsa mendapatkan dua faktor, yakni kesetiaan dan pengabdian (dedikasi), dengan menjalankan factor-faktor itu bangsa ini menjadi kuat dan mulia. Maka dari itu faktor-faktor ini seharusnya dibina (Atharvaveda XIX.41.1).
Perkembangan awal Tri Purusha ini disebutkan bahwa ketika Dang Hyang Nirartha pertama kali tiba di Pulau Bali dari Blambangan sekitar tahun caka 1411 atau 1489 M, dan ketika itu Kerajaan Bali Dwipa dipimpin oleh Dalem Waturenggong, beliau mendapat wahyu di Purancak, Jembrana bahwa di Bali perlu dikembangkan paham Tri Purusha ini.

B.     Padmatiga Sebagai Bentuk Pemujaan Tri Purusha
Pura Besakih
Pelinggih Padma Tiga di Pura Besakih merupakan sarana untuk memuja Tuhan sebagai Sang Hyang Tri Purusha yaitu jiwa agung alam semesta. Purusha artinya jiwa atau hidup. Tuhan sebagai jiwa dari Bhur Loka disebut Siwa, sebagai jiwa Bhuwah Loka disebut Sadha Siwa dan sebagai jiwa dari Swah Loka disebut Parama Siwa. Hal ini dinyatakan dalam Piagam Besakih dan juga dalam beberapa sumber lainnya seperti dalam Pustaka Pura Besakih yang diterbitkan oleh Dinas Kebudayaan Propinsi Bali tahun 1988.
            Pura Besakih merupakan sumber kesucian, tempat pemujaan Tri Purusha. Menurut Piagam Besakih, Pura Agung Besakih adalah Sari Padma Bhuwana atau pusatnya dunia yang dilambangkan berbentuk bunga Padma. Oleh karena itu, Pura Agung Besakih dijadikan sebagai pusat untuk menyucikan dunia dengan segala isinya. Pura Besakih juga merupakan pusat kegiatan upacara agama bagi umat Hindu. Di Pura Agung Besakih setiap sepuluh tahun sekali dilangsungkan upacara Panca Bali Krama dan setiap seratus tahun sekali diselenggarakan upacara Eka Dasa Rudra.

C.    Fungsi Pelinggih Padma Tiga
Pelinggih Padmasana yang memakai bhedawangnala, bertingkat lima dan di puncaknya ada satu ruang. Digunakan selain sebagai niyasa stana Sang Hyang Siwa Raditya atau Sang Hyang Tripurusa, juga sebagai niyasa Sang Hyang Widhi Wasa.

D.    Bentuk dan Letak Padma Tiga
Letaknya di Pura Penataran Agung Besakih. Pelinggih tersebut terdiri atas tiga bangunan berbentuk Padmasana berdiri di atas satu altar atau yoni. Piodalan di Padmasana Tiga dilangsungkan setiap Purnama Kapat. Ini terkait dengan tradisi ngapat. Sasih Kapat atau Kartika, merupakan saat-saat bunga bermekaran.
·         Palinggih Padma paling kanan tempat memuja Sang Hyang Parama Siwa. Bangunan ini biasa dihiasi busana hitam. Busana hitam pada palinggih Padma Tiga bukanlah symbol Dewa Wisnu, tetapi Parama Siwa. Dalam Mantra RgVeda dinyatakan bahwa keberadaan Tuhan yang memenuhi alam semesta ini hanya seperempat bagian. Selebihnya ada di luar alam semesta. Keberadaan di luar alam semesta ini amat gelap, sebab alam yang tertinggi (Swah Loka) tak terjangkau sinar matahari sehingga berwarna hitam. Tuhan juga maha ada di luar alam semesta  yang gelap disebut Parama Siwa. Parama siwa adalah Tuhan dalam keadaan Nirguna Brahman atau tanpa sifat. Manusia tidak mungkin melukiskan sifat-sifat Tuhan Yang Maha Kuasa itu.  
·         Bangunan Padma yang terletak di tengah  adalah lambang pemujaan terhadap Sang Hyang Sadha Siwa. Busana yang dikenakan pada Padma Tengah itu berwarna putih kuning sebagai symbol Tuhan dalam keadaan Saguna Brahman. Artinya Tuhan sudah menunjukkan ciri-ciri niskala untuk mencipta kehidupan yang suci dan sejahtera. Putih lambang kesucian dan kuning lambang kesejahteraan. Warna putih ini merupakan lambang akasa.
·         Bangunan Padma paling kiri lambang pemujaan Sang Hyang Siwa yaitu Tuhan sebagai jiwa Bhur Loka. Busana yang dikenakan berwarna merah. Warna inilah bukanlah lambang Dewa Brahma. Warna merah itu sebagai symbol yang melukiskan keberadaan Tuhan sudah dalam keadaan krida untuk Utpati, Sthitti dan Pralina. Dalam hal inilah Tuhan Siwa bermanefestasi menjadi Tri Murti.  Di Bhur Loka inilah Tuhan meletakkan ciptaan-Nya berupa stavira (tumbuh-tumbuhan), janggama (hewan) dan manusia.
 
Padma Tiga di Besakih
Jadi, pelinggih Padma Tiga merupakan sarana pemujaan Tuhan sebagai jiwa Tri Loka. Karena itu, dalam konsepsi rwa-bhineda, Pura Besakih merupakan Pura Purusha, sedangkan Pura Batur sebagai Pura Pradana.
Demikianlah keberadaan Pelinggih Padma Tiga yang berada di Mandala kedia dari Pura Penataran Agung Besakih. Di Mandala kedua ini sebagai simbol bertemunya bhakti dengan sweca. Bhakti adalah upaya umat manusia atau para bhakta untuk mendekatkan diri pada Tuhan. Sedangkan sweca dalam bahasa Bali maksudnya suatu anugerah Tuhan kepada pada bhakta-Nya. Sweca itu akan diterima oleh manusia atau para bhakti sesuai dengan tingkatan bhaktinya kepada Tuhan.
TRI HITA KARANA
A.    Hakikat Tri Hita Karana
Tri Hita Karana merupakan suatu konsep atau ajaran dalam agama hindu yang selalu menitikberatkan bagaimana antara sesama bisa hidup secara rukun dan damai. Tri Hita Karana bisa diartikan secara leksikal yang berarti tiga penyebab kesejahteraan. Yang mana Tri yang artinya tiga, Hita yang artinya sejahtera, dan Karana yang artinya penyebab. Pada hakikatnya Tri Hita Karana mengandung pengertian tiga penyebab kesejahteraan itu bersumber pada keharmonisan hubungan antara:
Manusia dengan Tuhannya (Parhyangan)
Manusia dengan alam lingkungannya (Palemahan)
Manusia dengan sesamanya (Pawongan)
Konsep Tri Hita Karana muncul berkaitan dengan keberadaan desa adat di Bali. Hal ini disebabkan oleh terwujudnya suatu desa adat di Bali bukan saja merupakan persekutuan daerah dan persekutuan hidup atas kepentingan bersama dalam masyarakat, namun juga merupakan persekutuan bersama dalam kepercayaan memuja Tuhan. Dengan kata lain bahwa ciri khas desa adat di Bali harus mempunyai unsur wilayah, orang-orang atau masyarakat yang menempati suatu wilayah serta adanya tempat suci untuk memuja Tuhan.
Dalam sejarahnya istilah Tri Hita Karana ini pertama kali diperkenalkan pada 11 November 1966 pada saat penyelenggaraan Konferensi Daerah I Badan Perjuangan Umat Hindu Bali yang bertempat di perguruan Dwijendra Denpasar. Konferensi itu diselenggarakan berdasarkan kesadaran umat Hindu akan dharmanya untuk berperan serta dalam pembangunan bangsa menuju masyarakat sejahtera, adil dan makmur berdasarkan Pancasila. Kemudian setelah diperkenalkan maka istilah Tri Hita Karana menjadi berkembang dan dikenal luas  oleh masyarakat sampai sekarang.
Unsur-unsur Tri Hita Karana ini meliputi tiga hal yaitu Sanghyang Jagatkarana (Tuhan), Bhuana (Alam) dan Manusia itu sendiri. Dalam hal ini manusialah yang berperan penting dalam mewujudkan atau menjalankan konsep Tri Hita Karana ini, dimana manusia sebagai pelaku utama dalam menjalankan tiga bagian dari Tri Hita Karana.
Dalam penerapan hubungan harmonis tersebut ada kaitannya dengan pelaksanaan Panca Yadnya dimana disana ada lima jenis yadnya dan peruntukannya.

B.     Pengertian Tri Hita Karana
Tri Hita Karana terdiri dari tiga kata, yaitu Tri, Hita dan Karana. Tri artinya tiga, Hita artinya kebahagiaan atau sejahtera dan Karana artinya sebab atau penyebab. Jadi dari segi tiap penyususn arti katanya Tri  Hita Karana berarti tiga penyebab hubungan harmonis dan kebahagiaan yang seimbang dan saling berhubungan erat antara satu dengan yang lainnya.
Pembagian Tri Hita Karana meliputi tiga hal yang saling berhubungan harmonis antara yang satu dengan yang lain yaitu:
Parhyangan artinya hubungan manusia dengan Tuhannya.
Palemahan artinya hubungan manusia dengan alam.
Pawongan artinya hubungan manusia dengan sesamanya atau hubungan sosial.

C.    Bagian-Bagian Ajaran Tri HIta Karana
  1. Parhyangan atau hubungan manusia dengan Tuhan, dalam hal ini manusialah yang selalu harus memuja dan sujud bakti kepada Tuhan sebagai sang pencipta alam semesta beserta isinya. Dalam hal ini pelaksanaanya bisa kita wujudkan dengan mengambil bagian dari Panca Yadnya yaitu pada bagian Dewa Yadnya artinya persembahan korban suci kehadapan Dewa/Sang Hyang Widhi. Selain itu untuk menjaga keharmonisan Parhyangan ini bisa juga dengan berbuat kebaikan artinya menjalankan semua perintahNya dan menjauhi semua laranganNya serta rajin sembahyang dengan tujuan mengucap syukur atas segala berkah dan anugerah maupun musibah yang dihadapi untuk menjadi manusia yang lebih baik dan bijaksana.
  2. Palemahan atau hubungan manusia dengan lingkungan atau alam. Dalam hal ini kita sebagai manusia ciptaan Tuhan wajib menjaga sesuatu yang ada di sekitar kita baik mahkluk hidup atau sebuah sistem. Mahkluk hidup bisa berupa hewan atau binatang dan tumbuh-tumbuhan biasanya secara niskala kita menjaga hewan dan tumbuhan dengan persembahan saat Tumpek Kandang, selain itu kita juga harus bisa menjaga suatu sistem misalnya aliran sungai atau pantai dengan cara tidak membuang sampah sembarangan apalagi membuang sampah ke sungai atau ke pantai. Wujud yang lain hubungan manusia dengan alam bisa berupa hubungan skala dan niskala serta unsur-unsur alam yang disebut Panca Maha Buta, misalnya dengan melaksanakan Bhuta Yadnya. Contoh dari Butha Yadnya ini adalah dengan melakukan Mecaru atau Tawur Agung dengan tujuan untuk menjaga keseimbangan antara Macrocosmos (Buana agung) dan Microcosmos (Buana Alit). Selain itu salah satu menjaga lingkungan yang setiap tahun umat Hindu laksanakan adalah Hari Raya Nyepi, dimana pada saat Nyepi kita tidak melakukan aktivitas apapun sehingga bisa mengurangi segala macam polusi pada hari Nyepi seperti polusi udara karena tidak ada kendaraan yang beredar saat itu sehingga tidak ada gas emisi buang dari kendaraan dan lain-lain.

  1. Pawongan atau hubungan harmonis antara sesama manusia. Dalam hal ini membina hubungan harmonis bisa dimulai dari lingkungan paling kecil yaitu lingkungan keluarga, teman dan lebih luas lagi ke masyarakat. Dalam menjaga hubungan harmonis ini sebisa mungkin dengan cara menjauhkan sikap saling membeda-bedakan berdasarkan derajat, agama, suku. Kita semua adalah makhluk ciptaan Tuhan dihadapanNya kita semua sama. Dalam kehidupan sehari-hari bisa kita lihat kegiatan dirumah tangga misalnya dengan membagi pekerjaan antara istri dan suami. Selain itu kita juga bisa lihat dari kegiatan di Pura atau di Banjar saat gotong-royong dan acara suka duka lainnya. Dalam hal ini bisa juga kita lihat dalam pelaksanaan Panca Yadnya yaitu pada bagian Manusa Yadnya dan Pitra Yadnya. Manusa yadnya misalnya saat ada acara pernikahan atau metatah disana pasti terlibat keluarga dan masyarakat terdekat untuk menyelesaikan pekerjaan, begitu juga saat Pitra yadnya misalnya Ngaben disana pasti terlibat keluarga dan masyarakat terdekat untuk menyelesaikan pekerjaan.
Hubungan Manusia dengan Tuhan (Parhyangan), dengan Sesama (Pawongan) dan dengan Alam Lingkungan (Palemahan). Unsur- unsur Tri Hita Karana itu terdapat dalam kitab suci Bagawad Gita (III.10), berbunyi sebagai berikut:
“Sahayajnah prajah sristwa pura waca prajapatih anena prasawisya dhiwan esa wo'stiwistah kamadhuk.”
Artinya :
Pada jaman dahulu Prajapati menciptakan manusia dengan yadnya dan bersabda: dengan ini engkau akan berkembang dan akan menjadi kamadhuk dari keinginanmu.
Dalam sloka Bhagavad-Gita tersebut ada nampak tiga unsur yang saling beryadnya untuk mendapatkan yaitu terdiri dari : Prajapati = Tuhan Yang Maha Esa dan Praja = Manusia.

D. Implementasi Tri Hita Karana Dalam Kehidupan Beragama
Penerapan Tri Hita Karana dalam kehidupan umat Hindu sebagai berikut
  1. Hubungan antara manusia dengan Tuhannya yang diwujudkan dengan Dewa yadnya.
  2. Hubungan manusia dengan alam lingkungannya yang diwujudkan dengan Bhuta yadnya.
  3. Hubungan antara manusia dengan sesamanya diwujudkan dengan Pitra, Resi, Manusia Yadnya.

Penerapan Tri Hita Karana dalam kehidupan umat Hindu di Bali dapat dijumpai dalam perwujudan:
  1. Parhayangan
Parhyangan berasal dari kata hyang yang artinya Tuhan. Parhayangan berarti ketuhanan atau hal-hal yang berkaitan dengan keagamaan dalam rangka memuja ida sang hyang widhi wasa. Dalam arti yang sempit parhyangan berarti tempat suci untuk memuja tuhan. dalam hal ini Parhyangan dapat dilihat  di beberapa tingkat di bali yaitu: Parahyangan untuk di tingkat daerah berupa Kahyangan Jagat, Di tingkat desa adat berupa Kahyangan desa atau Kahyangan Tiga, Di tingkat keluarga berupa pemerajan atau sanggah.
Menurut tinjauan Dharma susilanya, manusia menyembah dan berbhakti kepada tuhan disebabkan oleh sifat-sifat parama (mulia) yang dimilkinya. Rasa bhakti dan sujud pada tuhan timbul dalam hati manusia oleh karena sanghyang widhi maha ada, maka kuasa, maha pengasih yang melimpahkan kasih dan kebijaksanaan kepada umatnya. Kita Sebagai umat yang beragama yang bernaung dibawah perlindungannya sangat berutang budi lahir bhatin kepada beliau. Dan utang budhi tersebut tak akan terbalas oleh apapun. Karena hal tersebut diatas, maka satu-satunya dharma/susila yang dapat kita sajikan kepada beliau hanyalah dengan jalan menghaturkan parama suksmaning idep atau rasa terima kasih kita yang setinggi-tingginya kepada beliau.
Adapun contoh implementasi rasa syukur kita kepada tuhan adalah dengan jalan :
  1. Dengan khidmat dan sujud bhakti menghaturkan yadnya dan persembahyangan kepada tuhan yang maha esa).
  2. Berziarah atau berkunjung ketempat-tempat suci atau tirta yatra untuk memohon kesucian lahir dan bhatin
  3. Mempelajari dengan sungguh-sungguh ajaran-ajaran mengenai ketuhanan, mengamalkan serta menuruti dengan teliti segala ajaran-ajaran kerohanian atau pendidikan mental spiritual.

Dalam Bhagawadgita dikatakan bahwa :
Satatam kirtayatom mam yatantas ca drsha vrtatah namasyantas ca mam bhatya ni tyayuktah upsate
Yang artinya adalah :
Berbuatlah selalu hanya untuk memuji-Ku dan lakukanlah tugas pengabdian itu dengan tiada putus-putusnya. Engkau yang memujaku dengan tiada henti-hentinya itu serta dengan kebaktian yanbg kekal adalah dekat dengan-Ku (Bhagawangita.IX.14)

Disamping itu rasa bhakti kepada ida sanghyang widhi wasa itu timbul dalam hati manusia berupa sembah, puji-pujian, doa penyerahan diri, rasa rendah hati dan rasa berkorban untuk kebajikan. Kita sebagai umat manusia yang beragama dan bersusila harus menjunjung dan memenuhi kewajiban, antara lain cinta kepada kebenaran, kejujuran, keikhlasan, dan keadilan.
Dengan demikian jelaslah begaimana hubungan antara sanghyang widi dengan manusia. Hubungan ini harus dipupuk dan ditingkatkan terus kearah yang lebih tinggi dan lebih suci lahir bhatin. Sesuai dengan swadharmaning umat yangb religius, yakni untuk dapat mencapai moksartam jagad hita ya ca itri dharma, yakni kebahagiaan hidup duniawi dan kesempurnaan kebahagioan rohani yang langgeng (moksa).

  1. Pawongan
Pawonan berasal dari kata wong (dalam bahasa jawa) yang artinya orang. Pawongan adalah perihal yang berkaitan dengan orang dalam satu kehidupan masyarakat, dalam arti yang sempit pawongan adalah kelompok manusia yang bermasyarakat yang tinggal dalam satu wilayah, contohnya: Pawongan untuk di tingkat daerah meliputi umat Hindu di Bali, Untuk di desa adat meliputi krama desa adat, Tingkat keluarga meliputi seluruh anggota keluarga
Pada mulanya Tuhan yang lebih dulu menciptakan bhuwana atau alam, maka munculah palemahan, setelah itu barulah beliau menciptakan manusia beserta mahluk hidup lainya. Setelah manusia berkembang dan menghimpun diri dalam kehidupan bersama dan mendiami suatu wilayah tertentu maka muncullah masyarakat yang disebut dengan pawongan.
Selain menyelaraskan hubungan atman dengan paramatman atau hubungan manusia dengan tuhan, kita sebagai mahluk sosial juga harus membina hubungan dengan sesama Manusia dan mahluk lainya. Yang dimaksud dengan hubungan antar manusia dan mahluk lain ini adalah hubungan antar anggota keluarga , masyarakat, antara anak, suami dan istri dan lainnya. Hubungan manusia dengan mahluk lainya hendaknya dapat menciptanya suasana rukun, harmonis, dan damai serta saling bantu membantu satu sama lain dengan hati yang penuh dengan cinta kasih. Yang mana kasih merupakan dasar kebajikan. Kasih muncul dari dalam kalbu yang merupakan alam paramatman, yaitu lama ananda (kebahagiaan).

Dalam manu smerti I.,138 disebut :
“satyam bruyat priyam bruyam na bruyam satyam, priyam canartam, bruyat esa dharmah sanatanah”
Yang artinya:
Berkatalah yang sewajarnya jangan mengucapkan kata kata yang kasar. Walaupun kata-kata itu benar, jangan pula mengucapkan kata-kata lemah lembut namun dusta. Inilah hukum susila yang abadi (sanatana dharma).

Perilaku yang baik adalah dasar mutlak dalam kehidupan sebagai manusia, karena dengan berbuat susila manusia dapat meningkatkan taraf hidupnya baik di alam sekala maupun di alam niskala. dari sloka diatas inilah setiap Umat diarahkan untuk mengimplementasikan ajaran Tri Kaya Parisudha, yakni; Wacika (bertutur kata yang baik dan sopan), Kayika (berbuat yang sesuai dengan ajaran dharma) dan Manacika (selalu berpikiran positif). dengan menerapkan ajaran tri kaya parisudha ini, maka hubungan antar sesama akan menjadi lebih baik sehinga dapat mewujudkan wilayah yang tenteram negara yang sejahtera.

  1. Palemahan
Palemahan berasal dari kata lemah yang artinya tanah. Palemahan juga berati bhuwana atau alam. Dalam artian yang sempit palemahan berarti wilayah sutu pemukiman atau tempat tinggal. contohnya; Pelemahan di tingkat daerah meliputi wilayah Propinsi Bali, Di tingkat desa adat meliputi "asengken" bale agung, Di tingkat keluarga meliputi pekarangan perumahan.
Manusia hidup dimuka bumi ini memerlukan ketentraman, Kesejukan, ketenangan dan kebahagiaan lahir dan bhatin. Untuk mencapai tujuan tersebut manusia tidak bisa hidup tanpa bhuwana agung (alam semesta). Manusia hidup di alam dan dari hasil alam. Hal inilah yang melandasi terjadinya hubungan harmonis antara manusia dengan alam semesta ini.
Untuk tetap menjaga keseimbangan dan keharmonisan alam, umat Hindu melaksanakan upacar tumpek uye (tumpek kandang), yang bertujuan untuk menjaga kelestarian hidup binatang dan melaksanakan upacara tumpek wariga (tumpek bubuh) untuk melestarikan tumbuh-tumbuhan.
Demikianlah penjelasan mengenai pembagian dari tri hita karana tersebut. Arti penting ajaran Tri hita karana ini merupakan ajaran agama hindu yang universal. Ajaran tri hita karana mengarahkan manusia untuk selalu mengharmoniskan hubungan manusia dengan sang pencipta, manusia dengan alam semesta, dan hubungan manusia dengan alam semesta atau lingkunganya.
Arah dan sasaran dari tri hita karana adalah mencapai mokrastham jagad hita ya ca iti dharma (silahkan baca: "Tujuan Agama Hindu"), yakni mencapai kebahagiaan lahir dan bhatin sehingga dengan keharmonisan maka tercapailah kebahagiaan yang merupakan tujuan akhir dari agama hindu yakni bersatunya atman dengan paramatman.

Implementasi Ajaran Tri Hita Karana Dalam Rumah Tangga
Berbicara kebahagiaan atau mengenai Tri Hita Karana tidaklah bisa dipisahkan antara pawongan, palemahan dan parahyangan sebab antara satu dan yang lainya saling keterikatan yang mana implementasi ketiga ajaran tersebut menentukan kebagaiaan manusia dan alam semesta ini sebab dalam Tri Hita Karana tidak saja hubungan antara manusia saja, melainkan hubungan dengan alam dan tuhan pula diajarkan.
Implementasi Tri Hita Karana sesungguhnya dapat diterapkan dimana dan kapan saja dan idealnya dalam setiap aspek kehidupan manusia dapat menerapkan dan mempraktekan tri hita karana ini yang sangat sarat dengan ajaran etika yakni tidak saja bagaimana kita diajarkan bertuhan dan mengagungkan tuhan namun bagaimana srada dan bhakti kita kepada tuhan melalaui praktik kita dalam kehidupan sehari-hari seperti mengahargai antara manusia dan alam semesta ini yang telah memberikan kehidupan bagi kita.
Dalam kehidupan sehari-hari setiap manusia selalu mencari kebahagiaan dan selalu mengharapkan agar dapat hidup secara damai dan tentram baik antara manusia dalam hal ini tetangga yang ada dilingkungan tersebut maupun dengan alam sekitarya. Hubungan tersebut biasanya terjalin dengan tidak sengaja atau secara mengalir saja terutama dengan manusia namun ada juga yang tidak memperdulikan hal tersebut dan cenderung melupakan hakekatnya sebagai manusia sosial yang tak dapat hidup sendiri. Dalam kehidupan manusia, segala sesuatu berawal dari diri sendiri dan kemudian berlanjut pada keluarganya. Dalam keluarga, manusia akan diberikan pengetahuan dan pelajaran tentang hidup baik tentang ketuhanan ataupun etika oleh orang tua atau pengasuh kita (wali), dan beranjak dari hal tersebut pula orang tua secara perlahan menanamkan nilai-nilai keagamaan dalam tubuh dan pikiran setiap anak-anaknya melalui praktik maupun teori. Begitu pula halnya dengan pendidikan atau pemahaman tentang tri hita karana itu sendiri, secara sadar maupun tidak sadar hal tersebut atau nilai-nilai ajaran tersebut sudah ditanamkan oleh orang tua melalui praktik kepada anak-anaknya seperti mengajarkan anaknya untuk mebanten saiban. Memang hal ini manpak sepele namun jika kita mampu mengkaji lebih dalam sesungguhnya hal ini mengandung nilai pendidikan yang sangat tinggi meskipun orang tua kebanyakan tidak mampu menjelaskan secara logika dan benar makna dari tindakan tersebut.
Selain hal tersebut diatas masih banyak hal terkait implementasi tri hita karana yang dapat dilakukan dalam kehidupak keluarga, seperti mebanten ketika hendak melakukan suatu kegiatan seperi membuka lahan perkebunan yang baru. Hal ini jika dikaji tidak hanya penghormatan kepada alam namun penghormatan kepada tuhan melalui tindakan yang secara kasat mata meminta ijin beliau untuk memakai alam tersebut untuk kebutuhan manusia. Interaksi manusia dengan alam dan Tuhan yang nampak pada kegiatan tersebut hampir tidak pernah diperbincangkan oleh manusia dan menganggap hal tersebut sebagi hal yang biasa, namun demikianlah umat hindu mengimani ajaran Tri Hita Karana yang mana implementasinya sendiri terkadang dilakukan secara tidak sengaja namun mengena pada sasaran.
Mengenai hubungan manusia dengan sesam (pawongan), ajaran tri hita karana nampak pada upacara manusia yadnya misalnya upacara otonan yang mana yang dilakukan untuk memperingati hari kelahiran kita dan bersyukur kepada tuhan karena telah dilahirkan. Ajaran Tri Hita Karana tidak bisa diterapkan dalam satu bidang saja namun ada keterkaitannya dengan yang lain seperti contoh diatas, tidak saja untuk manusia dilakukan upacara tersebut namun ditujukan pula kepda tuhan. Demikian mulianya huhungan yang diajarkan tri hita karana pada manusia yang selalu menekankan kepada manusia agar selalu ingat bahwa kita didunia ini tidaklah hidup sendirian, ada tentangga dalam hal ini manusia lain yang kita butuhkan sebagai mahluk sosial, ada alam yang memberi kita berkah agar bisa meneruskan hidup dan ada tuhan sebagai pencipta kita. Sehingga kita senantiasa harus menjaga hubungan tersebut agar terjadi keseimbangan dalam hidup ini. Demikianlah contoh secara gamlang yang dapat diuraikan selain masih banyak lagi contoh lain yang terkait mengenai hal tersebut yang mana bisa dimulai dari lingkungan rumah tangga atau lingkungan keluarga, sebab dalam keluarga banyak memberikan edukasi yang tinggi tentang nilai-nilai serta konsep ketuhanan, sehingga dari padanya hendaknya kepada anak diberikan hal itu sedini mungkin.

Implementasi Tri Hita Karana dalam Upakara
Contoh Canang sebagai implementasi Tri Hita Karana dalam Upakara
Tujuan dari Tri Hita Karana adalah Palemahan, melestarikan ekosistem dari Tri Hita Karana. Karena sesungguhkan Tri Hita Karana merupakan suatu ekosistem, apabila hubungan manusia dengan manusia berjalan baik, secara otomatis hubungannya dengan Tuhan juga akan baik, begitu juga sebaliknya. Begitupun hubungan manusia dengan alam, harus tetap berjalan baik. Sebagai contoh, apabila manusia melakukan suatu hal dengan lingkungan yaitu dengan menebang hutan sembarangan yang mengakibatkan hutan rusak dan gundul secara otomatis hubungan manusia dengan Tuhan tidak baik, dan alam tidak menerima sehingga terjadi bencana. Maka dengan adanya ekosistem tersebut wajib kita pertahankan melalui suatu perwujudan menurut keyakinan hindu melalui suatu upacara. Sehingga dalam kepercayaan Hindu muncul upacara pelestarian hutan yaitu "wana kerti".
Selain itu ada upacara dengan tingkatan yang lebih kecil diantaranya untuk tumbuh-tumbuhan yang bertujuan untuk menyucikan tumbuh-tumbuhan yaitu upacara tupek wariga, yang dilakukan tiap 6 bulan sekali. Sementara perwujudan Tri Hita Karana antara manusia dengan Tuhan yaitu adanya upacara Dewa Yadnya, seperti odalan dengan melaksanakan upacara purnama dan tilem. Sementara jika dilihat dari perwujudan antara manusia dengan sesamanya, upacara dipandang untuk melestarikan hubungan social, sehingga muncul istilah ulang tahun atau dalam istilah hindhu disebut oton. Otonan yang bertujuan untuk memperingati hari lahir atau memperingati roh yang bereinkarnasi atau lahir kembali dalam suatu upakara.
Dari ketiga upakara tersebut sesuai dengan tujuan Tri Hita Karana yakni untuk melestarikan ekosistemnya, melestarikan alam semesta beserta isinya, melestarikan keyakinan terhadap Tuhan serta sebagai sarana, dasar dan wujud nyata dari pelaksanaan agama.
Jika ditinjau dari upakara yang terkecil tetapi upakara tersebut bermakna untuk melestarikan Tri Hita Karana yaitu "upakara yadnya sesa". Perwujudannya yaitu melakukan “persembahan” kepada Hyang Widi dengan istilah saiban yang dilakukan setelah selesai memasak. Yajna Sesa yaitu persembahan berupa makanan yang berupa sejumput nasi beserta lauk dan sayurnya, intinya apa yang kita makan itulah yang kita persembahkan terlebih dahulu. Yadnya ini dilakukan sebagai simbol dari Tri Hita Karana, yadnya tersebut yang isinya nasi, garam, sayur dan ikan.
  1. Garam memiliki symbol sebagai pelestari dan penetralisir .
  2. Nasi memiliki symbol sebagai kekuatan dharma, dan
  3. Sayur memiliki symbol dari tumbuh-tumbuhan.
  4. Ikan atau daging merupakan symbol dari sarwa prani.
Oleh sebab itu kita disarankan untuk melaksankan yadnya sesa dan mengaturkan kepada Hyang Widi, karena semua symbol pada saiban tersebut adalah ciptaan-Nya.
Jika kita tidak suguhkan kepada Hyang Pencipta, sama saja kita sebagai pencuri, maka dosalah kita.
Manusia disini berkewajiban untuk nyumpat (menetralisir) dengan tujuan agar dikehidupan yang akan datang, binatang tersebut akan meningkat kedudukannya menjadi manusia, begitupun dengan tumbuh-tumbuhan.
Dalam melaksanakan yadnya sesa, sebenarnya terdapat 5 “tempat pembunuhan” yang wajib dilakukan saat melakukan yadnya sesa tersebut, yaitu:
  1. di talenan
  2. di pisau
  3. di batu asah
  4. di batu ulekan
  5. di sapu
Dikelima tempat tersebut dalam weda, diwajibkan untuk melakukan saiban. Saiban merupakan simbol kita untuk melebur akan dosa-dosa yang telah kita lakukan, selain itu sebagai wujud terimakasih kita kehadapan sang pencipta akan apa yang kita makan. Disamping 5 tempat diatas, yadnya sesa atau saiban biasanya dipersembahkan seperti:
  1. ditempat beras
  2. ditempat menumbuk beras
  3. di tungku dapur
  4. di pintu keluar pekarangan (lebuh)
  5. ditempat lainnya yang dianggap penting untuk persembahan tersebut
Persembahan makanan sering dianggap keliru dan dianggap sebagai pemborosan oleh beberapa orang yang bukan penganut Veda bahkan oleh orang Hindu sendiri. Sering dianggap bahwa persembahan tersebut hanya memberi makan untuk semut dan binatang lain pemakan nasi.
Persembahan nasi yang kemudian sisa-sisanya dimakan semut, ini sebenarnya tindakan yang sangat mulia, meski tampak keliru. Didalam kitab Sarasamuscaya disebutkan :
"apabila seseorang ingin bahagia maka bahagiakanlah makluk lain."
Membahagiakan mahkluk bumi lainnya disebut Bhuta Hita. Dengan memberi makan semut berarti kita telah membahagiakan mereka (semut) selain kita mempersembahkannya kepada mahkluk penjaga Bhumi dan juga Jiwa-jiwa agung lainnya serta para Dewa dan Tuhan.
Apabila pemberian makan untuk semut dikaitkan dengan kelangsungan mahkluk hidup, hal ini merupakan suatu hal yang ilmiah. Menurut penelitian, bahwa dengan memberi semut makan di sekitar sawah maka beberapa hama padi tidak dapat berkembang. Karena beberapa hama takut dengan semut dan hama itu adakalanya dimakan semut. Disinilah perlunya menjaga ekosistem agar tercipta keharmonisan. Saling menjaga antara mahkluk hidup yang satu dengan mahkluk hidup lainnya.
Dalam melaksanakan kegiatan upakara hendaknya kita mengerti akan makna dari pelaksanaan upakara tersebut, agar tidak terjadi kesalah pengertian. Apabila pemahaman akan makna dari upakara itu sendiri telah kita ketahui, bahwa kita melakukan kewajiban sebagai umat beragama, dengan menumbuhkan kesadaran bahwa apa yang ada di dunia ini adalah ciptaan Tuhan.
Kita harus bisa membedakan akan mana Paham Hindu dan mana Agama Hindu, yang mana 2 hal tersebut masih kabur dalam pemikiran kita. Kini banyak anak muda yang terpancing akan paham hindu, yang menyangka bahwa paham tersebut sama dengan agama Hindu. Seperti pelaksanaan yadnya sesa diganti dengan penyebutan mantram saja, sebenarnya hal tersebut sah saja jika dilakukan, tapi itu merupakan suatu paham Hindu. Begitu pula dengan adanya korban suci dalam Reg Weda, Yajur Weda, Atharwa Weda, mengandung esensi 3 ajaran. Yaitu ajaran Upanisad, ajaran Naranyaka dan ajaran Brahmana. Ajaran tersebut lahir menjadi upakara dan upacara. Sementara ajaran Naranyaka lahir menjadi etika, serta ajaran Upanisad menjadi tattwa. Semua ajaran tersebut terdapat dalam weda.
Dalam agama Hindu terdapat 3 kerangka, yaitu tattwa, etika dan sarana. Tuhan tidak hanya menciptakan roh saja dalam alam semesta ini, tapi juga menciptakan material (tubuh manusia, tubuh binatang, tumbuh-tumbuhan) semua itu diciptakan oleh Tuhan agar ada kehidupan di dunia ini. Jadi dalam melakukan persembahan dalam upakara harus juga diimbangi antara penggunaan material dengan mantra. Jika hanya menggunakan mantram saja tanpa menggunakan material dalam memuja Tuhan, maka alam ini tidak akan ada. Dalam upakara diperlukan suatu sarana persembahan seperti canang atau banten.
Canang merupakan “ bahasa weda ”, hal tersebut lahir dari ajaran Brahmana. Ada anggapan bahwa memuja Tuhan dengan menggunakan sarana canang, disebut hindu Bali, jika tanpa sarana canang atau banten, bukan dinamakan hindhu Bali. Karena Hindhu Bali memiliki kriteria diantaranya:
  1. mempunyai pemerajan
  2. menjalankan panca yadnya
  3. dipuput oleh para wiku atau pemangku
  4. ada ajaran panca sradha
Adanya dasar kepercayaan monoisme (percaya akan satu tuhan, dan yakin dengan manifestasinya para bethara atau dewa-dewa serta menyembah leluhur), dan Hindu Bali berasal dari ajaran Weda.




























SOAL
  1. Apa yang dimaksud dengan Tri Purusha?
  2. Bagaimana awal mula paham Tri Purusha berkembang di Bali?
  3. Mengapa Pura Besakih disebut hulunya berbagai pura di Bali?
  4. Apa hubungan Tri Purusha dengan Tri Loka?
  5. Jelaskan bagaimana bentuk pemujaan Tri Purusha!
  6. Apa yang anda ketahui tentang Tri Hita Karana?
  7. Sebutkan dan jelaskan konsep Tri Hita Karana di Bali yang tercermin dalam tata kehidupan masyarakat Hindu?
  8. Sebutkan bagian Panca Yadnya yang menerapkan konsep pawongan serta contohnya!
  9. Berikan tiga contoh dari perwujudan penerapan Tri Hita Karana dalam bentuk parhyangan!
  10. Dalam melaksanakan yadnya sesa, sebenarnya terdapat 5 “tempat pembunuhan” yang wajib dilakukan saat melakukan yadnya sesa. Dimanakah 5 tempat pembunuhan tersebut ?
















JAWABAN
  1. Tri Purusha adalah jiwa agung tiga alam semesta yakni “Bhur Loka (alam bawah), Bhuwah Loka (alam tegah), dan Swah Loka (alam atas). Tuhan disebut sebagai penguasa alam bawah disebut Siwa atau Iswara. Sebagai jiwa alam tengah, Tuhan disebut Sadha Siwa dan sebagai jiwa agung alam atas, Tuhan disebut Parama Siwa atau Parameswara.
  2. Perkembangan awal dari Tri Purusha ini disebutkan bahwa ketika Dang Hyang Nirartha pertama kali tiba di pulau Bali dari Blambangan sekitar tahun caka 1411 atau 1489 M, dan ketika itu Kerajaan Bali Dwipa dipimpin oleh Dalem Waturenggong, beliau mendapat wahyu di Purancak, Jembrana bahwa di Bali perlu dikembangkan paham Tri Purusha ini.
  3. Pura Besakih sebagai huluning Bali Rajya, hulunya daerah Bali. Pura Besakih sebagai kepala atau jiwanya Pulau Bali. Hal ini sesuai dengan letak Pura Besakih di bagian timur laut Pulau Bali. Timur laut adalah arah terbitnya matahari dengan sinarnya sebagai salah satu kekuatan alam ciptaan Tuhan yang menjadi sumber kehidupan di bumi. 
  4. Hubungan Tri Purusha dengan Tri Loka diwujudkn melalui jiwa (purusha) yang menempati 3 alam dalam kehidupan ini. Yakni Siwa menguasai Bhur Loka, Sadha Siwa menguasai Bhwah Loka dan Parama Siwa menguasai Swah Loka.
  5. Keberadaan bentuk pemujaan Tri Purusha Hindu diwujudkan melalui pemujaan terhadap palinggih Padmatiga yang berfungsi sebagai niyasa stana Sang Hyang Siwa Raditya atau Sang Hyang Tripurusa, juga sebagai niyasa Sang Hyang Widhi Wasa.
  6. Tiga hubungan yang harmonis yang menyebabkan kebahagiaan bagi umat manusia.
  7. Konsep Tri Hita Karana :
  1. Parahyangan,yakni berupa unit tempat suci (Pura) tertentu yang mencerminkan tentang ketuhanan.
  2. Pawongan , yakni berupa unit organisasi masyarakat adat sebagai perwujudan unsur antara sesame manusia.
  3. Palemahan, yakni berupa unit atau wilayah tertentu sebagai perwujudan unsur alam atau lingkungan.
  1. Dalam hal ini bisa juga kita lihat dalam pelaksanaan Panca Yadnya yaitu pada bagian Manusa Yadnya dan Pitra Yadnya. Manusa yadnya misalnya saat ada acara pernikahan atau metatah disana pasti terlibat keluarga dan masyarakat terdekat untuk menyelesaikan pekerjaan, begitu juga saat Pitra yadnya misalnya Ngaben disana pasti terlibat keluarga dan masyarakat terdekat untuk menyelesaikan pekerjaan.
  2. Parahyangan untuk ditingkat daerah berupa Kahyangan Jagat, di tingkat desa adat berupa kahyangan desa atau Kahyangan Tiga, ditingkat keluarga berupa pemerajan atau sanggah.
  3. Di talenan, di pisau, di batu asah ,di batu ulekan dan di sapu


























DAFTAR PUSTAKA
sejarahharirayahindu.blogspot.co.id/2011/11/fungsi-dan-jenis-padmasana.html
cakepane.blogspot.co.id/2014/11/implementasi-tri-hita-kara-dalam.html